Sekian detik berjalan ada saja beberapa inovasi muncul dari setiap kejadian, dimulai dari inovasi mobil tanpa supir, proyeksi lingkungan virtual dengan VR ataupun bermunculan beberapa perangkat konvensional menjadi perangkat pintar. Hal - hal tersebut tidak merubah cara sudut pandang seseorang dalam bagaimana mengoperasikannya, apakah penggunaannya mudah atau sebaliknya ?.

Disinilah sebuah tantangan dari seorang perancang baik itu perancang sistem ataupun perancang tampilan aplikasi dalam membuat sebuah aplikasi yang memiliki user experience yang baik, karena tanpa memandang hal ini sebuah sistem tidak akan dikatakan user friendly meskipun dibuat dengan sedemikian rupa.

Menurut mbah google yang dikutip dari wikipedia ini mengatakan bahwa definisi user experience adalah bagaimana cara seseorang merasakan ketika menggunakan sebuah produk, sistem atau jasa. Terlihat pada definisi tersebut saya bisa berasumsi bahwa ilmu user experience tidak sebatas pada sebuah sistem yang sudah terdigitalisasi, akan tetapi pada jasa yang ditawarkan seperti pengalaman dalam mencukur rambut di orang A ataupun sedapnya nasi goreng yang dihidangkan oleh orang B.

Pada sebuah sistem ataupun aplikasi yang terdapat pada sebuah komputer istilah User Experience juga disering disebut UX dan para web design ataupun designer user interface juga dituntut untuk bisa membuat nilai user experience yang tinggi disamping pembuatan user interface yang lumayan ribet, kenapa ?.

Pengguna tidak mau menunggu

Orang yang sabar mungkin disayang tuhan tapi untuk urusan ini sangat berbeda, kenapa?, apakah orang - orang di dunia ini mulai tidak sabaran ?. Saya rasa tidak hanya saja setiap orang pasti akan mulai berasumsi negatif jika pada saat - saat tertentu aplikasi yang anda buat mengalami kerusakan ataupun kesalahan sehingga proses untuk mengambil data sangat lama.

Untuk orang sudah mengerti mungkin ini adalah hal yang udah biasa, ya tau sendirilah tidak ada sistem yang dibuat sempurna karena sistem operasi saja yang sudah dibuat sempurna minta melakukan pembaruan agar bisa lebih sempurna lagi padahal perusahaan pembuatnya sudah mengklaim bahwa produknya sudah sempurna.

Setelah hal ini terjadi terkadang pengguna langsung menghajar pemilik atau pembuat sistem dengan kata - kata yang sudah biasa kita dengar, ya tahu sendirilah nanti kalau diumbar kesini bisa sakit hati.

Pengguna hanya tau aplikasi yang dirilis sudah tidak ada kerusakan

Setiap pengguna yang menggunakan sebuah aplikasi selalu berpikir bahwa aplikasi yang sedang digunakannya tidak ada kerusakan atau bahasa kerennya itu BUG, mungkin ini memang benar - benar terjadi untuk beberapa aplikasi yang sudah melalui pembaruan sistem hingga berkali - kali.

Bagaimana jika untuk yang baru pertama kali rilis ?, mungkin bug akan berkeliaran dimana - mana tanpa diketahui developer atau developer tersebut sudah tahu namun bug tersebut muncul lagi di tempat lain. Hal ini saya bisa bilang sangat wajar karena pengujian aplikasi hanya bisa diketahui hasilnya jika sudah digunakan oleh banyak orang, saya tidak percaya bahwa sebuah sistem yang baru lahir pasti aman dari bug karena menurut saya sendiri bug lahir dari developer itu sendiri.

Pengguna tidak mau ribet

Hal yang sedikit membuat para designer dibayar mahal entah itu dia mendesign sebuah baju ataupun sebuah meja workstation yaitu pengguna tidak mau ribet, alasan klasik yang bisa membunuh seluruh sistem jika ini tidak dipikirkan. Ini tidak terbatas dari sebuah aplikasi maupun website tapi seluruh produk ataupun jasa yang pernah ditawarkan, bahkan perkembangan user experience juga bisa meningkat dengan adanya perubahan teknologi yang pesat seperti sekarang.

Sebagai contoh kita kembali ke masa lalu dimana jika kita membeli sebuah pulsa kita harus membeli sebuah voucher isi ulang pulsa, pada jaman itu hal tersebut dikatakan tidak ribet karena kita gak perlu ke gerai operator untuk isi ulang pulsa. Namun hal tersebut berbeda pada masa sekarang dimana semua terjadi serba instan sehingga dampaknya isi pulsa pun kita bisa beli lewat marketplace online yang ada, kita hanya perlu menyerahkan nomor dan uang nominalnya maka pulsa akan terisi secara otomatis.

Perbedaan mendasar yang terlihat adalah cara pengisian pulsanya dimana jika kita menggunakan voucher maka kita harus menggosok voucher terlebih dahulu setelah itu harus melakukan beberapa prosedur untuk memasukan kode voucher tersebut agar ponsel kita dapat di isi pulsa dan pengisian pulsa dengan cara memberikan nomor dan uang nominal setelah transaksi selesai maka pulsa pun otomatis ikut terisi.

Kesimpulan

Saya berasumsi bahwa ilmu user experience dalam mengembangkan sebuah sistem berbasis komputer ataupun mobile sangatlah banyak, terlebih lagi juga dapat bisa berkembang sehingga dapat menjadi ilmu yang tidak terbatas. Namun ada beberapa kata yang bisa saya sampaikan terkait user experience ini, yaitu buatlah pengguna langsung mengerti dan memahami sebuah ciptaan saat melihat sebuah ciptaan yang baru.

Ini memang hal yang sangat sulit saya karena sendiripun butuh waktu yang lumayan banyak dalam mendesign atau membuat sebuah user interface dan sistem informasi yang memiliki nilai user experience yang tinggi, bahkan terkadang beberapa proses pada sebuah sistem harus saya update bahkan cut karena terkesan lumayan lama atau ribet untuk pengguna awam.

Mau bagaimanapun tetap ini adalah tulisan yang dibuat berdasarkan pemikiran saya sendiri. Jika anda ingin berpendapat atau mengatakan keberatan dengan artikel ini silahkan ajukan protes anda pada kolom komentar, karena tidak ada sesuatu yang sempurna kecuali di tangan Pencipta.

Tentang Penulis

Gravatar Profile Image

Ambrizal Suryadinata

Perkenalkan nama saya Ambrizal Suryadinata lahir pada tanggal 19 Agustus 199x di Denpasar, Bali. Jika ditanya "asal kamu dari mana ?" maka saya akan bingung menjawabnya karena bapak dari orang tua saya adalah orang kelahiran Bali dan ibu dari orang tua saya adalah orang kelahiran jawa.

Read more Open Linkedin

Recent Comment



Instagram